Berhentilah bertanya mengenai Dalil

Hampir setiap kali saya berbicara dengan orang lain mengenai suatu perkara dalam islam, selalu saja ada orang yang bertanya begini “Mana dalilnya ?”. Ini mungkin terdengar lebih baik dibanding orang yang menelan informasi begitu saja. Misalnya jika saya membohongi dengan berkata bahwa makan nasi itu haram, mungkin jika anda orang yang mudah dibohongi, anda akan langsung percaya karena tidak bertanya mengenai dalilnya.

Tapi yang menjadi permasalahannya adalah untuk orang-orang yang selalu kritis menanyakan dalil, seakan-akan saya sedang membohongi mereka. tahukah anda dalil itu ada berapa macam jenis ? tipe hadis ? golongan ? dan bahkan kecendrungan mazhabnya. ah memang terlalu rumit sepertinya, namun tidak jika kita pelajari ilmu dasarnya. sebelum mempelajari ilmu dasarnya, saya ingin bertanya apakah jika anda mendapatkan dalil yang kuat mengenai suatu perkara, lalu anda akan 100% mengerjakan dan mematuhinya ? tidak juga kan ? lalu ngapain nanya dalilnya -_-. lantaran diberikan dalil tapi gak percaya. atau lebih tepatnya pura-pura tidak percaya dan tidak yakin.

Ketika saya mencari tahu mengenai haramnya musik, saya sudah berkomitmen akan mematuhi 100% hasilnya jika memang haram, saya akan mengharamkan musik untuk diri saya. dan sekarang alhamdulillah saya sudah tidak pernah mendengarkan musik dan menggantikannya dengan mp3 Al-Qur’an. ini lah yang disebut komitmen, namun untuk sebagian orang yang bertanya mana dalilnya, lalu setelah diberikan dalilnya, dia akan berkata “ah masa sih, gak yakin nih, masa gini aja gak boleh”. Terdengar lucu dan konyol bagi saya.

Jadi stop berhenti menanyakan dalil jika memang anda belum/tidak siap menerimanya.

Sekarang mari sedikit kita bahas mengenai ilmu dasar hadis. dasarnya hadis merupakan omongan dari bibir Rasulullah, dan dengan waktu, sampailah kepada kita melalui kutipan atau perantara para sahabat rasulullah(biasanya). Agar mudah saya beri contoh misalnya gini, jika saya bicara kepada teman saya Angga kusuma bin Nugraha, bahwa sesungguhnya naik motor itu enak banget, lalu Angga kusuma bin Nugraha menyampaikannya lagi kepada Adhitya bin Septriyadi. kira-kira hadisnya akan seperti ini,

“Adhitya bin Septriyadi berkata bahwa telah mendengar dari Angga kusuma bin Nugraha bahwa Ahmad Fathi Hadi bersabda bahwa naik motor itu enak banget”

Ok sudah ada gambaran sekarang ?, mari kita lanjutkan.

Ilmu ini disebut ilmu rijalul hadist lalu bagaimana cara mengetahui kebenaran suatu hadis. ok saya beri contoh yang mudah seperti contoh diatas, misalnya,

  1. Ahmad Fathi Hadi tinggal di Jakarta dan tidak pernah keluar jakarta, serta hidup dari 1800-1870
  2. Angga kusuma bin Nugraha hidup di Bali, dan pernah beberapa kali datang ke Jakarta, hidup dari tahun 1810-1865
  3. Adhitya bin Septriyadi tinggal di Jakarta, namun hidup tahun 1872-1930

Bisa dilihat ketidak cocokan pada Adhitya bin Septriyadi, dimana masa hidupnya tidak memungkinkan untuk menerima ucapan dari Angga kusuma bin Nugraha. Maka hadis ini bisa dibilang palsu.

Bagaimana jika contohnya seperti ini,

  1. Ahmad Fathi Hadi tinggal di Jakarta dan tidak pernah keluar jakarta, serta hidup dari 1800-1870
  2. Angga kusuma bin Nugraha hidup di Bali, dan pernah beberapa kali datang ke Jakarta, hidup dari tahun 1810-1865
  3. Adhitya bin Septriyadi tinggal di Jakarta, namun hidup tahun 1859-1928

Coba perhatikan kelahiran Adhitya bin Septriyadi dengan kematian Angga kusuma bin Nugraha, antara 1865 dengan 1859, berarti kemungkinan Adhitya bin Septriyadi berumur 6 tahun, apakah mungkin Adhitya bin Septriyadi dalam umur 6 tahun tersebut menerima pesan, apa mungkin juga Angga kusuma bin Nugraha memberikan pesan tersebut kepada anak berumur 6 tahun ? Walau ada kemungkinan, namun ada kebimbangan, maka hadis ini bisa disebut dhaif/lemah.

Kebetulan saya juga membantu riset seorang prof yang membahas mengenai ilmu ini, jadi agak sedikit tahu.

Hasrat saya adalah Uang

Tertarik dengan judul diatas ? Simak tulisan saya berikut.

Hari ini saya mengikuti acara “Jakarta Startups Club: Bincang Bebas Startups Indonesia”. Acara ini cukup menarik dimana para startup bisa saling berbincang(lebih tepatnya debat). Acara ini dibuka dengan topik “Passion vs Money”. Menurut Aria Rajasa Masna(GantiBaju.com) di artikel yang dia tuliskan untuk DailySocial pada link berikut http://dailysocial.net/2012/04/05/simply-business-uang-dulu-hasrat-akan-mengikuti/, bahwa menurutnya Uang haruslah terlebih dahulu baru Passion akan mengikuti. Anda bisa baca sendiri, karena saya tidak akan menjelaskannya disini.

Sejujurnya saya setuju pendapat ini, namun Pak Eka Ginting berpendapat lain, bahwa Passion dulu dan uang akan datang dengan sendirinya. Ok saya punya sudut pandang yang sedikit melengkapi pendapat pertama, menurut saya Passion yang terbaik adalah Money. Kalau kita hanya punya Passion saja, dan terus mengejar passion tanpa berfikir untuk menghasilkan uang darinya, maka ini merupakan ide buruk menurut saya. Seperti anda yang mempunyai keahlian programming dan menurut anda itu merupakan passion, tapi percuma saja karena anda tidak memikirkan bagaimana menghasilkan uang dari passion anda. Ini lah alasan kebanyakan para programmer terjebak untuk terus menjadi karyawan dibandingkan membuat usaha dari keahliannya dan start make money. Coba fikirkan hal ini sejenak :)

Ketika kita berfikir bahwa hasrat atau passion adalah uang, maka kita akan melakukan berbagai macam cara untuk mendapatkan uang(mohon lakukan dengan cara yang halal). Bagaimana jika passion anda disatu bidang tidak dapat menghasilkan uang ? Apa mungkin anda akan tetap ngotot untuk terus mengejar hasrat anda hingga anda kehabisan uang ?. Sebagai manusia yang membutuhkan uang di zaman seperti ini, kita haruslah flexible, jangan hanya bermuka dua, tapi bermuka 1000 jika perlu.

Coba anda pergi ke ITC dan bertanya dengan pedagang celana dalam disana, apakah itu passion dia untuk berjualan celana dalam ? Tentu saja bukan, melainkan Uang!. Bayangkan jika bisnis celana dalamnya gagal, dia akan dengan cepat melakukan bisnis lain untuk menghasilkan uang, karena memang passion dia adalah Uang!.

Jika anda bertanya pengalaman saya mengenai hasrat dan uang, saya punya pengalaman dikeduanya. Selama hampir 5 tahun lebih saya membantu komunitas sebagai Adobe User Group Manager bahkan saya terpilih sebagai Adobe Community Champion. Jujur ini passion saya untuk membantu atau menjadi pelayan komunitas, saya merasa senang bisa membantu banyak orang serta sharing ilmu dan pengalaman kepada mereka. Selama ini saya sama sekali tidak berfikir untuk membuat uang dari passion saya ini dan saya berjanji akan selamanya seperti ini. Namun saya mulai merubah Hasrat saya untuk membuat atau menghasilkan uang pada bidang lain, dan kini saya sedang menjalankan sebuah startup bernama Tandif. Bagi yang belum mengetahui tandif, tandif merupakan platform untuk filtering konten digital dari hal negatif. Jika boleh jujur dalam benak saya, saya berkata seperti ini, “Dengan Tandif saya akan membersihkan dunia digital dari hal negatif, Tuhan akan memberikan saya pahala, dan manusia akan membayar usaha saya dengan uangnya”. Nah ini lebih mantab lagi, bukan hanya passion untuk uang, tapi juga untuk akhirat(hanya berlaku bagi yang memiliki tuhan, apapun agamanya).

Semua yang anda baca diatas adalah sudut pandang para Founder, lalu bagaimana dengan sudut pandang para investor ? menurut Pak Andi S. Boediman, Beliau tidak peduli mana yang terlebih dahulu Passion maupun Uang. Menurut dia adalah value atau nilai dari startup yang akan dia investasikan.

Setelah mendengarkan sudut pandang tersebut saya menjadi sadar, bahwa banyak orang yang mendebatkan hal seperti diatas, Passion dan Money, mana yang harus terlebih dahulu. Padahal jelas untuk sebagain orang ini akan berbeda hasilnya. Lalu untuk apa panjang lebar kita berdebat mengenai hal ini ? Terlihat konyol, Mungkin jawaban sederhananya adalah karena pola fikir kita yang masih berada dalam suatu kelompok. Setelah mendengarkan sudut pandang yang berbeda kita dapat kembali berfikir dan mengembangkan pola fikir kita.

Sedikit penyegar dalam tulisan saya ini, coba lihat karakter Mr Crab yang sangat mencintai uang, ya passion dia adalah uang, bahkan ia dengan senang hati rela menukar sponge bob dengan uang. Walaupun anda mencintai uang, tapi jangan halalkan segala cara untuknya.

Menghargai Proses

Tidak terasa sudah sekitar satu tahun ini saya menjalani sebuah proses, ya sebenarnya dari lahir juga merupakan sebuah proses sih, namun satu tahun ini prosesnya tuh cukup berbeda(Tetep maksa poko’nya). Setahun yang lalu saya masih bekerja di sebuah perusahaan asal Singapore dengan gaji yang cukup menghibur, masih mempunyai pacar, dan masih cukup sehat. Tapi semua berubah ketika negara api menyerang

Tapi semua berubah ketika saya mulai berfikir dan mengambil sebuah keputusan sebagai langkah awal. Saya merasa ada yang salah selama ini. Banyak orang mengatakan mengenai Zona Aman, Justru saya menilai adalah sebaliknya, Zona Bahaya lebih tepatnya. Saya memutuskan untuk keluar dari Zona Bahaya

Selama ini anda selalu dibohongi oleh para motivator atau kebanyakan orang, loch ko bisa ? Ya coba dengarkan Template yang biasa dipakai oleh mereka selama ini, “Keluarlah dari Zona nyaman anda, cobalah membuat bisnis/usaha sendiri, dan bla bla bla” ini biasanya kalimat favorit para karyawan atau orang-orang yang masih terjebak sistem dimana tenaga dan atau fikiran mereka ditukar dengan uang bulanan. Kalimat tersebut jelas salah karena memberikan anda sebuah sugesti bahwa anda sekarang sedang dalam posisi nyaman, sehingga anda merasa bahwa sudah nyaman dan tidak perlu melanjutkan sisa nasihatnya yaitu membuat bisnis atau usaha sendiri.(Udah nyaman kan ?, ya udah deh gak apa-apa) Ya itu kesalahannya, Padahal Saat ini anda sama sekali tidak nyaman. Coba fikir seberapa nyaman dan amankah anda ? Nyaman dan aman mari kita gabungkan sekarang agar lebih mudah untuk anda membayangkannya. Coba fikirkan dan renungkan lagi, apakah anda sekarang benar-benar berada dalam kondisi yang aman dan nyaman ?

Bagi saya, satu tahun yang lalu saya sedang dalam kondisi atau sebuah zona yang sangat amat berbahaya, ya saya hanya karyawan di sebuah perusahaan, seorang programmer yang dibayar perbulan. saya sadari saya bisa tua, saya bisa sakit, saya bisa bosan dalam bekerja, dan saya ingin lebih. Apakah perusahaan ini akan bertahan lama, apakah perusahaan tempat saya bekerja akan terus ada, apakah akan memberikan pensiun dan menjamin semua kebutuhan saya ?. Rasanya tidak! Disitulah saya menyadari betul bahwa saat itu saya sedang berada dalam zona bahaya. Masihkah anda merasa dalam Zona nyaman ?

Andaikan para motivator merubah kalimatnya menjadi “Anda sedang dalam zona bahaya dan ancaman, segeralah keluar dan buatlah bisnis kalian sendiri”, ya saya yakin akan banyak orang yang lebih sadar. Inilah salah satu point yang ingin saya bagi untuk kalian semua. Manusia biasanya jika dalam kondisi yang berbahaya dia akan berubah

Setelah saya mengundurkan diri atau keluar dari zona bahaya, nampaknya keputusan saya ini benar-benar di uji oleh Allah, saya ditinggalkan oleh kekasih saya pada masa-masa sulit, dan tidak hanya itu saya terus diberi latihan berupa sakit yang muncul bergantian berbagai jenis, dari mulai tipes, alergi, herpes, kerusakan pada lambung, helicobaccter pylori, skelosis, psoreasis, scabies, hingga gigi patah dan masih banyak lagi yang saya gak hapal. Saya yakin semua ini adalah latihan untuk menguatkan saya, semacam leadership training. Alhamdulillah saya cukup menikmati dan menghormati semua proses ini. Hadapi dengan Ikhlas dan Tawakal, ya itu salah satu benefit yang saya rasakan karena memiliki agama dan tuhan seperti Allah SWT.

Freelance IT

Tentu anda bertanya apa yang saya lakukan untuk mencapai kondisi aman dan nyaman. Setelah resign, Saya mencoba freelance mengerjakan project-project IT dari mulai harga ratusan ribu hingga milyaran rupiah, eh tapi tidak seindah yang kalian bayangkan, karena dari puluhan project yang benar-benar beres cuma 3 dengan jumlah kecil. Hingga saat ini banyak yang mengenal saya sebagai Adobe Community Champion dan Adobe User Group Manager, tapi bukan berarti saya bisa dengan mudah mendapatkan project. Sebenarnya tidak ada yang salah dengan saya, saya juga bingung apa salahnya, coba saya jabarkan apa yang menjadi masalahnya.

Sistem project di Indonesia ini memang ada yang salah :

  1. Client maunya ketemu, ya wajar sih, tapi kadang ketemu bisa sampe berkali kali dan bahkan puluhan kali -_-! Jika setiap ketemu saja kita akan kehilangan setidaknya USD$6 dan beberapa jam waktu hilang untuk sekali pertemuan, yang padahal bisa pakai e-conferencing semisal Skype
  2. Diatas masih termasuk bagus karena clientnya tidak minta kita yang bayarin, ini biasanya untuk project yang jutaan keatas. Client minta di traktir ini itu, aneh kan ?
  3. Pajak Preman, biasanya ada saja preman yang minta uang hasil project 5-35%.
  4. Rampasan Preman, ini yang paling keterlaluan karena kita bisa dirampas hingga 80% dari nilai project. Waktu itu saya dapat project 1,2M untuk pengamanan pentagonnya indonesia, singkat cerita saya cuma dapat bersih 120jt. Udah gitu gak jadi pula, hasil presentasinya dicuri.
  5. Refisi Unlimited, client selalu punya cara untuk memintanya.

Ya mungkin Freelance IT memang tidak cocok untuk saya. Selamat bagi teman-teman freelance yang tidak mengalami nasib seperti saya. Lagipula hingga detik ini-pun saya masih tertatih-tatih karena faktor kesehatan, jadi mungkin kurang maksimal. Namun sepertinya saya harus berfikir kembali kemana saya harus melangkah, hingga akhirnya saya dipertemukan kembali dengan Pa Nazir.

Kisah Pa Nazir

Pasti sebagian orang pernah atau mungkin bosan dengan nama ini, Tapi tidak untuk saya. Sosok Pa Nazir bagi saya adalah sosok yang membuat hati saya bergetar dan sering membuat saya mengeluarkan air mata. Singkat cerita sewaktu S1, saya diberi nilai C oleh Pa Nazir, dan saat S2 bukan nilai C lagi yang saya dapat, justru saya sama sekali tidak diberi nilai oleh beliau. Saya tidak peduli sih, walaupun saya harus mengulang lagi semester depan, tapi saya sudah mendapatkan ilmu yang sangat berharga yaitu “inovasi”. walau saya tidak di ajari cara membuat inovasi itu, tapi saya bersumpah untuk mencoba melakukan inovasi, dan semoga disaat saya berhasil, belian belum dijemput oleh yang maha kuasa. Plis jangan mati dulu pa’, setiap saya doa, pasti saya doa biar pa nazir jangan mati cepat, bahkan doa ini lebih banyak dari doa kesembuhan saya.

Sosok Pa Nazir memberikan banyak inspirasi untuk saya, hingga saya kembali berfikir dan memutuskan untuk berhenti Freelance IT dan memulai untuk membuat sebuah inovasi.

Tandif

Sudah pukul 12:30 Malam pada saat saya menulis di blog ini, sehingga saya akan menceritakan intinya saja(mendadak kehilangan semangat menulis). Jadi jika kita simak dari awal, saya bekerja, lalu resign, kemudian freelance, dan sekarang adalah inovasi. Saya terfikir untuk membuat sebuah inovasi dimana dunia digital dapat dibersihkan dari hal negatif seperti porn, profanity, kekerasan, caci maki, dll, dan muncullah ide membuat Tandif. Saya mulai menolak semua tawaran Freelance yang datang dan mulai fokus riset filtering ini. Cukup menarik adalah disaat riset kita harus meminta izin terdapat orang tua. Saat itu saya menceritakan niat baik saya kepada Umi(Sebutan Ibu dalam bahasa Arab) untuk membuat filtering dan membutuhkan banyak referensi dan pengamatan terhadap hal-hal negatif. Berbekal niat baik itu, Ibu saya mengizinkan saya untuk bebas membuka hal tegatif di internet termasuk situs porno(mohon jangan gunakan ide yang sama untuk dapat membuka akses porno di rumah anda secara leluasa didepan orang tua). Dari riset tersebut banyak hal-hal menarik yang saya temui, dan berbagai metode saya ciptakan, hingga akhirnya saya berhasil merumuskan suatu cara yang sangat sederhana untuk merealisasikan teknologi yang dapat melakukan filtering hal-hal negatif. Anda bisa cek di http://tandif.com

Kini jika anda tanya, saya benar-benar tidak punya uang, bahkan untuk mewujudkan hasil riset ini pun saya harus meminjam uang yang tidak sedikit. Apapun proses-nya hormatilah, saya berharap semoga saya terus diberi kekuatan untuk bersyukur dan menikmati semua proses ini.

Investor

Ya ada kemajuan kalau dibaca dari awal, saya diberi kesempatan bertemu dengan seorang Investor, beliau mungkin cukup disegani pastinya di kancah dunia StartUp Company. Namun setelah bertemu dan menjelaskan plan tandif ini, saya cukup terkejut karena mendapatkan sikap yang sangat menarik dari beliau, ide saya tidak dihargai dan dinilai tidak ada buktinya, bahkan dia tidak tahu marketnya apa dan akan seperti apa. Dia juga merubah sikapnya terhadap saya setelah itu, semacam melihat anak kecil yang ingusan.

Ya mungkin saya anak ingusan, tapi setidaknya saya menghormati proses, bahkan dia tidak menghormati saya. Dengan sedih saya pulang dan berfikir kembali, mungkin ini juga bagian dari ujian. Selang 1 minggu setelah kejadian itu, saya bertemu seorang investor lainnya secara tidak sengaja di sebuah tempat makan, dan menceritakan ide saya. Investor itu pun ingin menemui saya kembali untuk mendengar presentasi saya. Akhirnya saya pun diberi kesempatan untuk menjelaskan ide saya secara lebih detail, dan Saya cukup kaget mendegar ucapan beliau, “Saya heran bagaimana si investor yang pertama itu bisa sebodoh itu menolak ide briliat kamu”. Alhamdulillah proses selama ini mulai terlihat checkpoint-nya, namun semua belum berakhir, karena Tandif belum launching :) Bahkan jika nanti Tandif tidak sukses saya tidak akan berhenti untuk terus maju, karena mungkin  proses-nya belum selesai.

Kesimpulan

Hingga saat ini yang saya tulis adalah sebuah proses bukan sebuah kesuksesan dari proses itu, tapi kita semua patut menghargai proses tanpa mengeluh dan tetap menjunjung tinggi semangat dan kejujuran. Berhentilah mendengarkan motivator, anda mampu menjadi motivator diri anda sendiri.

Seminar bertopik “Webinar” di Universitas Indonesia

Selasa, tepatnya 4 Oktober yang lalu saya mengisi acara seminar yang bertopik Webinar di Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia. Tapi tunggu dulu, bagi yang kenal dan tahu saya, pasti merasa aneh karena saya mengisi acara seminar di Fakultas Ekonomi. Sebagai Adobe User Group Leader(AUGI) saya biasa mengisi acara seminar seputar teknologi Adobe dan biasanya di Fakultas Ilmu Komputer atau Fakultas Teknik Informatika, jadi ya jarang-jarang dan ganjil aja ngisi di Fakultas Ekonomi :D.

Tapi jujur saya salut dengan para mahasiswa Universitas Indonesia khususnya fakultas ekonomi yang tanggap dengan perubahan saat itu terutama dunia digital. Di Indonesia dan beberapa negara lainnya, banyak sekali waktu dihabiskan untuk melakukan pertemuan, seminar, meeting, dan kegiatan lainnya. Coba bayangkan jika kita harus bertemu client yang berada di luar negeri, berapa biaya perjalanan yang dihabiskan ? Belum lagi resiko kesehatan dan nyawa selama perjalanan(kecelakaan dan sakit misalnya). Padahal semuanya itu bisa dilakukan secara online menggunakan e-conferencing.

Namun saya setuju bahwa tidak semuanya bisa lebih tepatnya enak/asik dilakukan secara online, salah satu contohnya adalah kencan/dating. Gak asik kali yah kencan online :D, tapi ya kira-kira begitu lah, bagi sebagian orang yang gugup depan wanita atau long distance, kencan online merupakan alternatif yang amat baik. Aduh maaf saya jadi keluar topik yang dibicarakan -_-!.

OK kembali ke topik utama, Saat ini kemajuan teknologi bisa dimanfaatkan untuk mengurangi biaya perjalanan, misalnya untuk seminar, meeting, dan sebagainya. Beberapa tahun yang lalu saya mengisi acara seminar di Jogja dengan jumlah peserta 300 kurang lebih, namun hal yang cukup menarik adalah total panitia ada sekitar 35(kebanyakan kan ya ?). belum lagi jika dihitung biasa perjalanan saya ke jogja(tiket pesawat, penginapan, dll). Padahal bisa saja seminarnya jadi online, atau disebut Webinar.

Jika para pembaca budiman adalah seorang Freelance pasti sudah biasa dengan e-conferencing. Coba bayangkan dapat project dengan angka 4 juta misalnya untuk 1 minggu, ketemu client anggaplah 2 kali. 2 kali pertemuan itu kan sudah keluar cost tentunya, belum lagi waktu yang terbuang, pulang lelah malah jadi tidur bukan kerja.

Saya percaya e-conferencing adalah solusi yang bagus jika diterapkan, terutama untuk para pejabat di negara kita, mau tau kenapa ? karena anggota DPR ‘saja’ mengeluarkan 151 Milyar pertahun untuk anggaran ‘pulsa'(belum lagi alesan kalau ada sedot pulsa jadi minta tambah). Itu baru pulsa loch, belum termasuk bensin, mobil, pesawat, penginapan, listrik, internet, air, dan lain-lain. Padahal jika mereka menggunakan e-conferencing, semua biaya itu bisa di pangkas(Selebihnya saya tidak akan komentar banyak).

Ok kembali ke seminar ini, jika anda bertanya pernahkan saya melakukan webinar/e-conferencing ? Ya, saya join meeting/webinar hampir beberapa kali seminggu dengan teman-teman Adobe di US/APAC dan sudah beberapa kali menyelenggarakan seminar online untuk target peserta Indonesia. Saya sadar banyak sekali teman-teman yang sulit untuk berkumpul di tempat dan waktu yang sama, sehingga saya beberapa kali menyelenggarakan Webinar. Alhamdulillah cuma/baru satu kali gagal karena listri padam(sumpah gak lucu, speechless banget ditengah-tengah seminar listrik padam). Selain itu dulu saya juga pernah mengembangkan sistem video conferencing buatan saya sendiri untuk mabes angkatan laut republik indonesia.

Banyak kegiatan dan meeting dengan teman-teman di Adobe US maupun APAC yang saya lakukan over internet dan hasilnya cukup bagus tanpa buang-buang waktu dan biaya travel :).

Berikut saya attach slide presentasi saya

Kapan-kapan kita bahas lebih dalam mengenai e-conferencing ini, atau bisa menghubungi saya di 081808497749 jika anda perusahaan dan membutuhkan jasa konsultasi mengenai solusi dan produk e-conferencing. Saya jamin perusahaan anda akan bisa menghemat banyak uang :).
Paket konsultasi yang saya tawarkan adalah berupa pemahaman dari e-conferencing, bagaimana melakukan e-conferencing sehingga sukses serta hingga anda bisa menghemat uang tentunya.
Owh iya ini foto-foto seminar kemarin :

Seperti biasa saya menjanjikan artikel khusus mengenai webinar yang lebih detail, So nantikan di blog ini ya…

Malware dan Phishing pada Facebook

Artikel ini saya buat sebagai dedikasi untuk teman-teman saya yang menjadi korban pencemaran nama baik oleh para pembuat malware dan semua yang telah di rugikan karena phishing di Facebook. Pernahkah anda melihat teman anda chating namun seperti aneh dan bukan kebiasaannya untuk menuliskan chat seperti itu, contoh …
Facebook Chat Malware

Ya, bahkan pengirim chat itupun tidak merasa pernah menulis seperti itu. Lalu siapa yang menulis ? Viruskah ? atau mungkin Hantu ?. Bukan virus, melainkan sebuah code program biasa yang berisi malware. Menurut Wikipedia, Perangkat perusak (bahasa Inggris: malware, berasal dari lakuran kata malicious dan software) adalah perangkat lunak yang diciptakan untuk menyusup atau merusak sistem komputer, peladen atau jejaring komputer tanpa izin termaklum (informed consent) dari pemilik.

Tolong garis bawahi kalimat “tanpa izin termaklum (informed consent) dari pemilik”, Bagaimana jadinya bila anda ternyata memberikan izin terhadap software/program tersebut ?, Hal ini jelas ketika pertama kali anda menyetujui program ini melakukan aksinya.Pada Facebook terdapat suatu permission/izin untuk setiap aplikasi yang dikembangkan menggunakan Facebook API, silahkan baca artikel saya sebelumnya disini. Setiap aplikasi pada facebook akan meminta izin kepada para pemakainya sebelum dapat melakukan/menggunakan hak yang anda berikan. Izin atau Permission yang saya maksud disini adalah untuk mengakses data dan fitur yang telah di sediakan oleh Facebook API.

Facebook Permission
pada saat artikel ini dibuat, terdapat 37 permission pada facebook, silahkan liat disini. Misalkan jika kita membuat aplikasi pengelola event, dimana penggunanya dapat mengedit langsung eventnya melalui aplikasi, maka user perlu memberikan izin create_event dan rsvp_event pada aplikasi, yang kemudian aplikasi dapat menggunakan hak yang diberikan oleh user(dapat berupa data, akses, dll, sesuai izin yang anda berikan). Namun sayangnya izin ini dapat disalah gunakan oleh aplikasi, misalnya untuk membuat event sex party dan mengundang seluruh teman dalam friend list di facebook. Hal ini pernah terjadi kepada teman saya, dia menghabiskan waktu 1 minggu untuk memperbaiki reputasinya. Bayangkan jika anda memberikan izin sms ? Event sex party tadi bisa mengirimkan sms undangan kepada seluruh teman anda, ditambah izin publish_stream wall anda akan penuh dengan kata-kata ‘sex’.

Aplikasi meminta izin kepada anda pada saat pertama kali anda mengakses, berikut contohnya …
Facebook Permission

Mulai saat ini jangan sembarangan memberikan permission kepada aplikasi yang berada pada facebook !, Baca dan perhatikan terlebih dahulu apakah aplikasi yang akan anda gunakan, apakah aplikasi resmi dari developer yang bersangkutan atau bukan. Lalu bagaimana bagi facebook user yang sudah memberikan permission kepada aplikasi ?, silahkan buka http://www.facebook.com/settings/?tab=applications, berikut list aplikasi yang terdapat pada facebook saya…
Apps on Facebook

Jadi solusinya adalah Silahkan remove aplikasi yang menurut anda aneh(permissionnya tidak sesuai aplikasi, namanya aneh, dll) dan tidak layak ada. Berikut contoh aplikasi yang aneh yang pernah saya gunakan difacebook…
Apps on Facebook yang aneh

Semoga dapat membantu dan memberikan pemahaman kepada semua yang membaca, Jika artikel ini membantu bagi anda, silahkan sebarkan link blog ini dan add facebook saya di http://www.facebook.com/ahmadfathihadi dan jadilah user yang baik :)

Bonus!!!
Saya akan memberikan beberapa link berguna bagi anda yang mengalami masalah facebook security seperti password anda di rubah( biasa disebut oleh 4L@y “f4c3B0k w dH@K” )  :

  • Jika lupa password, klik disini untuk reset password.
  • Jika anda merasa di hack namun masih dapat mengakses account, klik disini untuk recover.
  • Jika email yang biasa anda gunakan di remove oleh hacker sehingga anda tidak bisa login, klik disini untuk recover.
  • Jika email yang biasa anda gunakan diambil alih sehingga anda tidak dapat login, klik disini

Certificate of Completion Program

Certificate Of Completion

Certificate Of Completion

Hari ini dapat email dari linda.com, katanya saya dapat sertifikat. hah ?, perasaan nga pernah ikut seminar di luar negeri deh. Setelah dibaca lagi, ternyata sertifikat ini diberikan karena telah menyelesaikan Pelatihan Cource dari Lynda.com. Sertifikat ini diberi nama “Certificate of Completion Program”. Berikut list sertifikat yang saya terima :

Pasti banyak yang belum mengetahui apa itu Lynda.com, Lynda.com adalah semacam Online training library. banyak sekali Training yang disediakan oleh Lynda.com. biasaya setiap perusahaan besar mempunya sebuah acount di Lynda.com untuk kebutuhan para staf IT yang ingin mempelajari sesuatu. Acount premiumnya pun tidak murah, sekitar $375.