Niat awal

Dalam perjalanan saya kemarin ke mesir, saya bertemu salah satu saudara saya yang menceritakan kisahnya yang bisa kita petik hikmahnya mengenai betapa pentingnya niat awal. Beberapa tahun yang lalu dia berencana untuk membeli rumah namun sangat disayangkan dia tertipu dan kehilangan banyak uang hasil jerih payahnya selama belasan tahun. Kisah ini dia ceritakan Hampir dengan semua orang yang dia temui. Satu pertanyaan dalam benak dan kisahnya ini, yaitu kenapa ini bisa terjadi kepadanya.
Hingga suatu hari, ketika iya menceritakan kisah dan pertanyaannya ini. Ada seseorang yang bertanya, “apakah kamu sudah membaca bismillah ketika kamu membeli rumah tersebut”. Jawabnya “saya tidak yakin namun sepertinya tidak”. Orang tersebut lalu berkata “lalu apa lagi yang kamu harapkan?”.

Kisah ini adalah kisah nyata dan sangat dalam sekali maknanya. Betul sekali, apa yang kita harapkan jika niatnya saja tidak ada dan salah, bagaimana kita mau diberkati Allah dan dilindungi jika niatnya saja bukan untuknya.

Untuk semua orang yang tersesat, bertanyalah sehingga kamu diberi petunjuk.
Untuk semua orang yang hilang arah, luruskanlah kembali niatmu agar Allah menerangi jalanmu.

Toilet

Bagi warga negara Indonesia, mungkin sudah terbiasa dengan toilet yang kotor, bahkan kewajiban membayar sejumlah uang jika kita menggunakan toilet tersebut. Banyak yang bilang negeri ini kencing saja harus bayar, Terdengar wajar ? Tentu saja tidak.

Baiklah, mari lupakan sejenak soal Indonesia. Minggu yang lalu saya melakukan perjalanan ke Singapore selama 4 hari untuk pameran startup company yang saya dirikan. Pastinya banyak yang saya pelajari dari perjalanan ini. Seperti yang kita ketahui bahwa perjalanan mempunyai banyak manfaat, salah satunya untuk menjadi tolak ukur bagi kita apakah lebih maju, sama, atau justru lebih terbelakang dengan negara atau tempat yang kita kunjungi. Mungkin beda dengan temen-teman saya yang sudah pergi hingga kutub utara, saya baru beberapa kali bepergian keluar negeri, termasuk cairo, luxor, alexandria, mekkah, madinah, yaman, singapore, jakarta, jogja, dll.

Ada suatu kejadian yang selalu melekat di otak saya, yaitu ketika saya pergi ke Toilet di bandara Changi Singapore. Ketika saya memasuki toilet bau harum yang tercium, dan disambut oleh senyum seorang kakek tua(70 tahun lebih) yang luar biasa sehat. Sebagai seorang muslim saya tidak bisa menggunakan tisu tanpa air, dan luar biasa kakek ini mengerti apa yang saya cari sebelum saya bertanya, dia menunjukkan saya sebuah tempat khusus yang terdapat air dengan shower gagang dan toilet jongkok. Tidak hanya itu, dia menjagakan troli yang saya bawa. Setelah selesai dia mengarahkan saya ke tempat cuci tangan yang terdapat sabun untuk mencuci tangan. Sembari saya mencuci tangan dia langsung masuk ke toilet yang tadi saya gunakan untuk membersihkannya tanpa menunggu hingga saya keluar.

Saya cuma bisa terkagum-kagum dengan sikap kakek ini, Senyum dan pelayanannya belum pernah saya temukan di negara yang pernah saya kunjungi selama ini. Tidak hanya ini saja, ketika keluar terdapat layar sentuh untuk memberikan feedback atas toilet ini.

Changi Toilet

Changi Toilet

Kalau ada tombol diatas Excellent, pasti sudah saya pilih, Excellent masih kurang menurut saya.

Teman seperjalanan saya sekaligus anggota team sering bertanya kenapa di singapore banyak sekali orang tua yang bekerja sebagai supir taxy, supir bis, pembersih toilet, pembersih jalan, dan pekerjaan lainnya yang seharusnya tidak mereka kerjakan pada umur mereka yang sudah cukup tua ini. Tapi melihat kenyataan yang sangat menarik yaitu hampir semuanya super sehat dan bekerja dengan sungguh-sungguh. Berbeda dengan para pemuda yang 4LaY, Apa para anak muda tidak malu melihat para orang lansia ini yang justru malah bersungguh-sungguh dalam pekerjaannya.

Saya pernah membaca sebuah kasus dimana seorang ayah memberikan semua hartanya kepada anaknya, namun setelah itu anaknya malah mengusir ayahnya kejalanan, dan semenjak kasus itu, pemerintah singapore menyuruh untuk semua orang yang sudah tua agar tetep bekerja, seperti untuk pelayanan publik.

Jika anda membaca tulisan ini, ambillah pelajaran karena saya sudah menyempatkan waktu untuk menulis dan berbagi. Bangsa ini akan susah berubah jika kita masih berteriak menyalahkan pemerintah, berubahlah dari diri masing-masing, lalu bantu keluarga dan lingkungan anda berubah.