Ini memang bukan kunjungan saya yang pertama kali menuju Madinah Al-Munawarah, melainkan untuk yang ke Tiga kalinya. Pertama kali waktu saya masih kecil dan sudah dapat dipastikan saya tidak ingat sama sekali. kedua kalinya saya lupa ketika umur berapa tapi seingat saya sekitar umur 18 tahun jadi saya masih ingat sekali jalanan dan suasana Madinah. Ditambah lagi dengan kemampuan saya berbicara bahasa arab yang sangat lancar, merupakan nilai lebih yang mempermudahkan perjalanan.

Bagi anda yang sudah pernah mengunjungi Madinah dan Makkah pasti mengerti dan merasakan perbedaan yang besar dari kedua kota suci itu, Makkah yang kasar dan Madinah yang lembut. Awalnya saya bertanya kenapa perbedaan ini besar sekali dan mencolok, dari mulai awal pintu kota Madinah, saya merasakan suatu perasaan tenang dan damai. Kenapa ? kemungkinan besar karena Rasulullah di kuburkan di kota ini, inilah tempat peristirahatan terakhir Rasulullah.

Awal memasuki Madinah, hati orang yang memasukinya akan tenang dan damai, memasuki lebih dalam lagi kota Madinah memberikan suatu kepastian dan keyakinan akan kedamaian yang dirasakan di awal pintu masuk kota. Tinggal didalamnya tentu lain cerita, berjalan kaki dan mengitari kota madinah, melihat toko-toko sembari menuju Masjid Nabawi merupakan perasaan paling membahagiakan yang pernah saya alami selama ini. Luar biasa inilah perasaan damai yang saya cari selama ini, ternyata ada di kota ini, mengingat kenyataan bahwa saya tinggal di Jakarta merupakan hal yang amat menyakitkan bagi saya yang selama ini telah menemukan kedamaian di kota lain. Saya yakin bahwa saya tidak berlebihan mendeskripsikan Madinah, toh terbukti Rasulullah memilih kota ini sebagai tempat hijrah, dan rasulullah memilih kota ini untuk tempat peristirahatan terakhirnya.

Saya mempunyai impian untuk bisa menghabiskan sisa umur di Madinah dan dikuburkan disana, hal ini sering saya ceritakan ke orang-orang. Tidak hanya kotanya saja, tapi para penduduknya pun luar biasa baik dan tenang, berbeda sekali dengan para penduduk Mekkah. Ya Allah izinkah saya meninggal dan dikuburkan di Madinah !

Pada perjalanan kemarin, kebetulan saya dan beberapa jamaah dari Indonesia menggunakan taxi di Madinah untuk pergi ke suatu tempat. Didalam taxi karena hanya saya yang bisa berbicara bahasa arab, maka percakapan ringanpun terjadi, dan puncaknya terjadi ketika saya menceritakan kepada supir yang merupakan penduduk asli madinah itu bahwa saya ingin sekali meninggal dan di kubur diMadinah. Air mata tidak dapat lagi terbendung, namun suasanya menjadi semakin parah ketika sang supir mengatakan bahwa iya ingin sekali meninggal ketika ia sedang memberikan salam ketika berziarah di makam Rasulullah. Selepas ucapannya itu saya menangis deras di taxi yang memang sudah dari awal saya mengeluarkan air mata. Sungguh luar biasa impian supir taxi itu, ternyata impian saya selama ini tidak ada apa-apanya dibanding impian dia.

Tapi tunggu, belum selesai ucapan supir taxi ini, dia berkata “tahukan kamu kenapa saya ingin meninggal ketika saya sedang memberikan salam kepada rasulullah ketika sedang melakukan ziarah ?” Saya bertanya kenapa ?, dan dia menjelaskan bahwa manusia akan bangkit kembali sesuai dengan bagaimana dia mati, jika dia mati ketika bersujud, maka dia akan bangkit ketika bersujud. Jika ia mati ketika berzina, maka ia akan bangkit dengan keadaan yang buruk. “Kamu bisa bayangkan nanti ketika saya bangkit, saya akan berada dekat dengan Rasulullah sambil memberikannya salam”. Mendengar itu semakin deras saya menangis dan membuat jamaah indonesia lainnya bertanya-tanya ada apa. Kebetulan memang sudah dekat dengan tujuan dan kami turun, lalu sambil mengelap air mata saya menceritakan percakapan saya dengan supir taxi kepada para jamaah indonesia yang bersama saya.

Semoga kita semua bisa berziarah kembali ke Madinah Al-Munawarah.