Dua minggu sekali Pak hasan biasanya selalu datang kerumah membawa beberapa Ayam Kampung hidup untuk di potong dirumah saya.

Pak hasan tinggal di depok, dia berumur 75 tahun dengan kesehatan yang MasyaAllah semoga diberikan panjang umur dan berkah atas umur dan kesehatannya, hal ini terbukti dengan kendaraan yang ia gunakan dari depok ke rumah saya yang berada di salemba, yaitu Sepeda.

Iya betul, pak hasan dengan sepeda-nya serta keranjang ayamnya yang diikat dibelakang sepedanya, datang dari depok. Bayangkan saja seumuran pak hasan ini jauh-jauh berangkat dari depok mengayuhkan sepeda untuk menjual ayam, tidak perduli hujan atau panas.

Tentunya dia sudah punya anak dan cucu. Lalu apa alasan pak hasan masih bekerja dengan menjual ayam kampung kerumah rumah ? bukan karena anak-anaknya yang sudah berkeluarga pastinya, tapi karena Pak hasan mempunyai istri yang terkena gangguan jiwa, sebab cintanya ini dia tetap merawat istrinya, dan membutuhkan uang. ketika ditanya kenapa tidak menaruh saja istrinya dirumah sakit jiwa, dia menjawab bahwa dia yakin bahwa dia masih sanggup merawat istrinya.

Hari ini saya lebih terharu ketika ibu saya bertanya mengenai kabar istrinya, berikut ucapan pak hasan yang tidak saya ubah karena baru berselang 15 menit yang lalu. “Ya gitu deh madam, masih belum berubah sakit jiwanya. Abis gimana yah, saya suka sedih kalau ke acara nikahan, gak sama istri saya gak enak madam, biasanya kita berdua, sekarang saya sendiri, gak enak madam”.

Mendengar jawaban tulusnya, saya terdiam dan sangat terharu, ternyata masih ada kesetian hari ini. Walaupun istrinya sakit jiwa, tapi cintanya tidak berubah. Sungguh berbeda dengan para muda mudi jaman ini, dimana kesetiaan sudah susah untuk ditemukan.

Karena kesetian perlu pembuktian dan pengorbanan, bukan hanya sekedar kata-kata manis.