Tertarik dengan judul diatas ? Simak tulisan saya berikut.

Hari ini saya mengikuti acara “Jakarta Startups Club: Bincang Bebas Startups Indonesia”. Acara ini cukup menarik dimana para startup bisa saling berbincang(lebih tepatnya debat). Acara ini dibuka dengan topik “Passion vs Money”. Menurut Aria Rajasa Masna(GantiBaju.com) di artikel yang dia tuliskan untuk DailySocial pada link berikut http://dailysocial.net/2012/04/05/simply-business-uang-dulu-hasrat-akan-mengikuti/, bahwa menurutnya Uang haruslah terlebih dahulu baru Passion akan mengikuti. Anda bisa baca sendiri, karena saya tidak akan menjelaskannya disini.

Sejujurnya saya setuju pendapat ini, namun Pak Eka Ginting berpendapat lain, bahwa Passion dulu dan uang akan datang dengan sendirinya. Ok saya punya sudut pandang yang sedikit melengkapi pendapat pertama, menurut saya Passion yang terbaik adalah Money. Kalau kita hanya punya Passion saja, dan terus mengejar passion tanpa berfikir untuk menghasilkan uang darinya, maka ini merupakan ide buruk menurut saya. Seperti anda yang mempunyai keahlian programming dan menurut anda itu merupakan passion, tapi percuma saja karena anda tidak memikirkan bagaimana menghasilkan uang dari passion anda. Ini lah alasan kebanyakan para programmer terjebak untuk terus menjadi karyawan dibandingkan membuat usaha dari keahliannya dan start make money. Coba fikirkan hal ini sejenak :)

Ketika kita berfikir bahwa hasrat atau passion adalah uang, maka kita akan melakukan berbagai macam cara untuk mendapatkan uang(mohon lakukan dengan cara yang halal). Bagaimana jika passion anda disatu bidang tidak dapat menghasilkan uang ? Apa mungkin anda akan tetap ngotot untuk terus mengejar hasrat anda hingga anda kehabisan uang ?. Sebagai manusia yang membutuhkan uang di zaman seperti ini, kita haruslah flexible, jangan hanya bermuka dua, tapi bermuka 1000 jika perlu.

Coba anda pergi ke ITC dan bertanya dengan pedagang celana dalam disana, apakah itu passion dia untuk berjualan celana dalam ? Tentu saja bukan, melainkan Uang!. Bayangkan jika bisnis celana dalamnya gagal, dia akan dengan cepat melakukan bisnis lain untuk menghasilkan uang, karena memang passion dia adalah Uang!.

Jika anda bertanya pengalaman saya mengenai hasrat dan uang, saya punya pengalaman dikeduanya. Selama hampir 5 tahun lebih saya membantu komunitas sebagai Adobe User Group Manager bahkan saya terpilih sebagai Adobe Community Champion. Jujur ini passion saya untuk membantu atau menjadi pelayan komunitas, saya merasa senang bisa membantu banyak orang serta sharing ilmu dan pengalaman kepada mereka. Selama ini saya sama sekali tidak berfikir untuk membuat uang dari passion saya ini dan saya berjanji akan selamanya seperti ini. Namun saya mulai merubah Hasrat saya untuk membuat atau menghasilkan uang pada bidang lain, dan kini saya sedang menjalankan sebuah startup bernama Tandif. Bagi yang belum mengetahui tandif, tandif merupakan platform untuk filtering konten digital dari hal negatif. Jika boleh jujur dalam benak saya, saya berkata seperti ini, “Dengan Tandif saya akan membersihkan dunia digital dari hal negatif, Tuhan akan memberikan saya pahala, dan manusia akan membayar usaha saya dengan uangnya”. Nah ini lebih mantab lagi, bukan hanya passion untuk uang, tapi juga untuk akhirat(hanya berlaku bagi yang memiliki tuhan, apapun agamanya).

Semua yang anda baca diatas adalah sudut pandang para Founder, lalu bagaimana dengan sudut pandang para investor ? menurut Pak Andi S. Boediman, Beliau tidak peduli mana yang terlebih dahulu Passion maupun Uang. Menurut dia adalah value atau nilai dari startup yang akan dia investasikan.

Setelah mendengarkan sudut pandang tersebut saya menjadi sadar, bahwa banyak orang yang mendebatkan hal seperti diatas, Passion dan Money, mana yang harus terlebih dahulu. Padahal jelas untuk sebagain orang ini akan berbeda hasilnya. Lalu untuk apa panjang lebar kita berdebat mengenai hal ini ? Terlihat konyol, Mungkin jawaban sederhananya adalah karena pola fikir kita yang masih berada dalam suatu kelompok. Setelah mendengarkan sudut pandang yang berbeda kita dapat kembali berfikir dan mengembangkan pola fikir kita.

Sedikit penyegar dalam tulisan saya ini, coba lihat karakter Mr Crab yang sangat mencintai uang, ya passion dia adalah uang, bahkan ia dengan senang hati rela menukar sponge bob dengan uang. Walaupun anda mencintai uang, tapi jangan halalkan segala cara untuknya.