1 Minggu yang lalu terjadilah percakapan yang serius antara saya dan ibu saya. mungkin sebelumnya saya akan bercerita sedikit tentang keadaan saya. Ibu saya adalah asli wanita mesir, sedangkan ayah asli orang indonesia (banten). saya anak tunggal. Ibu sudah lumayan tua, dan ternyata dia ingin melihat anaknya hidup secara lengkap. hingga jika suatu saat ibu tidak lagi ada, masih ada wanita yang bisa merawat dan memperhatikan saya. nah atas dasar hal tersebutlah percakapan itu terjadi. “Fathi, jangan terlalu lama, 22 sudah nikah yah !. niatkan itu demi kamu sendiri, maka Allah akan membantu” ya mungkin intinya si’ itu. di mesir tidaklah herah jika ada yang menikah muda, biasa saja. Sekarang saya berumur hampir 19 tahun, sudah semester 6. mmm, berarti 1 tahun lagi lulus kuliah pas umur 20 tahun. trus kerja 2 tahun, pas lah sudah 22 tahun. Nikah ?, mau mau aja si’, tapi kan . . . mmm, ya Allah bantulah hambamu ini ! sempat terlintas rasa iklas untuk menikah hanya untuk membuat Ibu senang, tapi ternyata bukan hal itu saja yang menjadi alasan, ternyata memang itu yang terbaik buat keadaan saya. Walaupun jika satu saat nanti ibu saya memberikan sebuat pilihan, saya siap menerimanya dengan Ikhlas. Saya tidak bisa bilang TIDAK terhadap ibu saya.